Anak yang terkategori pra sekolah adalah anak dengan usia 3-5 tahun, seorang ahli psikologi, Elizabeth B. Hurlock mengatakan bahwa kurun usia pra sekolah disebut sebagai masa keemasan (the golden age).

Di usia ini anak mengalami banyak perubahan baik fisik dan mental, dengan karakteristik sebagai berikut :

1. Berkembangnya konsep diri

2. Munculnya egosentris,

3. Rasa ingin tahu yg tinggi

4. Imanjinasi yang tinggi

5. Belajar menimbang rasa

6. munculnya control internal

7. Belajar dari lingkungannya

8. berkembangnya cara berpikir

9. berkembangnya kemampuan berbahasa

10. munculnya perilaku ‘buruk’, seperti berbohong, mencuri, bermain curang, gagap, mogok sekolah, takut monster/hantu, teman imajiner, lamban, tempertantrum

Dalam teori perkembangan anak, keterampilan motorik berkoordinasi dengan otak. Jadi, amat mempengaruhi kemampuan kognitif (berpikir). Di usia prasekolah, gerakan tangan anak (handstroke) sudah pada taraf membuat pola (pattern making). Ini tingkat paling sulit karena anak harus membuat bangun/bentuk sendiri. Jadi, betul-betul dituntut hanya mengandalkan imajinasinya. Misal, menggambar bebas, mencipta mobil balap dari lego atau membangun rumah dari balok-balok aneka warna.

Pada usia 4 tahun, anak mulai dapat merangkai kata lebih banyak lagi. Di usia ini ada sekitar 1.000 sampai 1.500 kata yang sudah dapat diucapkannya. Seiring dengan pertumbuhannya, kata yang dimilikinya akan terus bertambah.

Usia prasekolah memberi kesempatan luas kepada anak untuk mengembangkan keterampilan sosialnya. Di usia inilah ia mulai melihat dunia lain di luar dunia rumah bersama ayah-ibu.

Kemampuan bersosialisasi harus terus diasah. Sebab, seberapa jauh anak bisa meniti kesuksesannya, amat ditentukan oleh banyaknya relasi yang sudah dijalin. Banyaknya teman juga membuat anak tidak gampang stres karena ia bisa lebih leluasa memutuskan kepada siapa akan curhat.

Anak prasekolah sudah mampu membedakan pria dan wanita yang dilihat dari penampilan yang berbeda, pakaian yang berbeda dan rambut yang berbeda. Beberapa anak juga mulai memahami organ-organ tubuh yang berbeda pada pria dan wanita karena orang tua mereka mulai memperkenalkannya, entah lewat pengamatan langsung atau lewat buku-buku. Tetapi tidak semua anak di usia ini punya keterampilan membedakan melalui anatomi fisik/organ intim karena beberapa orang tua masih enggan membicarakan soal peran seks pada anak mereka di usia prasekolah.

Tugas Perkembangan Anak Usia Pra Sekolah :

  1. Kontrol Pembuangan dan Stabilitas Fisiologis
  2. Belajar membedakan jenis kelamin
  3. Bersiap diri untuk belajar baca
  4. Belajar membedakan mana yang betul dan mana yang salah
  5. Belajar mengungkapkan kata hati

Ibu…., dalam Genggamanmu Pendidikan Generasi


Oleh: Dra. Rahma Qomariyah, M.Pd.I

( Nara Sumber Radio pada Rubrik Ketahanan Keluarga Muslim, Program Radio Cermin Wanita Sholihah, MMC- Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia)

ما نحل والد ولده افضل من ادب حسن

” Tidak ada pemberian seorang ayah( orang tua) yang lebih utama dari pendidikan yang baik”( HR Turmudzi).

Agar tercapai tujuan pendidikan keluarga, maka seluruh komponen pendidikan dalam keluarga harus menjalankan fungsinya secara  baik. Yang termasuk komponen pendidikan keluarga adalah, segala sesuatu yang ada disekitar anak, dan mampu mempengaruhi tingkah lakunya. Karenanya lingkungan anak harus sesuai dengan Islam, misalnya: hiasan-hiasan dinding yang sesuai dengan ajaran Islam; tayangan televisi, internet yang bisa diakses anak; Buku bacaan yang mendidik.

Disamping itu yang paling berpengaruh adalah seluruh anggota keluarga: ayah, ibu, pembantu dan anggota keluarga yang lain, serta teman bergaul anak. Karenanya mereka juga harus orang yang bertingkah laku sesuai dengan Islam.

Agar pendidikan keluarga berhasil, maka ibu sebagai pendidik utama harus memiliki sifat-sifat sebagai berikut:

  1. Bertaqwa.

Seorang yang bertaqwa akan selalu menjaga agar Allah tidak melihatmu di tempat larangan-Nya, dan jangan sampai anda tidak didapatkan di tempat perintah-Nya. melaksanakan  perintah Allah dan meninggalkan larangan Allah[1]. Perintah taqwa ini terdapat dalam surat Ali Imran 102:

يٰأَيُّهَا الَّذينَ ءامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقاتِهِ وَلا تَموتُنَّ إِلّا وَأَنتُم مُسلِمونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam[2].

Seorang ibu harus bertaqwa karena tugasnya sebagai guru adalah mendidik anak agar tingkah lakunya sesuai dengan tuntutan Islam, bertaqwa kepada Allah, berarti semakin dekat dengan Allah. Abdurrahman Amaroh dalam bukunya mengatakan:

لقد نجح منهجالتربية الاسلامي في توجيه الناس الى ربهم وردهم الى خالقهم حتى امن كل منهم ان الله قريب منه

“Sungguh strategi pendidikan Islam telah berhasil mengarahkan manusia kepada Tuhannya   dan mengembalikan mereka kepada Penciptanya. Sehingga masing percaya sesungguhnya Allah itu dekat”[3].

Memang yang demikian itu merupakan perubahan tingkah laku yang besar, karena jika tiap-tiap orang merasa dekat dengan Allah, selalu merasa diawasi Allah, maka akan menuntun tingkah lakunya sesuai dengan perintah dan larangan Nya.

2. Berilmu.

Seorang ibu harus betul-betul memahami ilmu yang akan disampaikan. Keahlian seorang ibu dalam menyampaikan materi pelajaran kepada anak, akan memberi  dampak positif terhadapnya. Karenanya Al Qur’an memberikan perhatian yang besar terhadap orang-orang yang berilmu. Firman Allah surat al Mujadalah; 11

يَرفَعِ اللَّهُ الَّذينَ ءامَنوا مِنكُم وَالَّذينَ أوتُوا العِلمَ دَرَجٰتٍ

niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat[4].

Ilmu yang harus dikuasai seorang ibu bisa dikategorikan menjadi dua: Pertama, meliputi: ilmu untuk menuntun aktivitas keseharian anak, misalnya: bertanggung jawab, izin masuk rumah, cara berpakaian yang syar’i, cara membiasakan ibadah, berbagi dengan sesama manusia terutama yang fakir miskin, mengajak teman untuk berbuat baik, mncegah teman untuk berbuat munkar, dll. Kedua, ilmu yang menuntun kepada kepakaran dan keahlian, misalnya ibu mempersiapkan kurikulum pendidikan keluarga: penguasaan bahasa Arab dasar, Penguasaan hadits yang memperkuat keimanan dan nafsiyahnya dan lain-lain.

3. Selalu mengarahkan proses pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. Pendidikan dalam pandangan Islam merupakan upaya sadar, terstruktur serta sistematis  untuk mensukseskan misi penciptaan manusia sebagai hamba Allah yang senatiasa mentauhidkan-Nya dan hanya beribadah kepadaNya. Firman Allah :

وَما خَلَقتُ الجِنَّ وَالإِنسَ إِلّا لِيَعبُدونِ

Artinya : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”(TQS. Adz Dzariat[51]; 56)[5]

Jadi tujuan pendidikan keluarga adalah terbentuknya kepribadian Islam atau seorang muslim yang selalu beribadah kepada Allah baik ibadah makdlo/ghoiru makdlo[6], karena tugas hidup seorang muslim adalah beribadah kepada Allah. Artinya Seorang muslim dituntut untuk mengisi hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah dengan cara senantiasa melakukan aktifitas sesuai perintah Allah dan dengan niat ikhlash hanya karena Allah.

Dengan demikian dalam mendidik anak, ingat pada tujuan pendidikan keluarga yang telah kita tetapkan: kapan tujuan sudah tercapai targetnya, tahap demi tahap tujuan yang telah kita tetapkan, dan telah kita capai. Semuanya untuk menggapai tujuan yang telah kita tetapkan menjadi mufassir misalnya.

4. Bisa sebagai tauladan dan mengamalkan apa yang diajarkan.

Sudah bukan menjadi rahasia lagi bahwa adak lebih mudah mencontoh tingkah laku orang tuanya daripada ucapannya. Karenanya keteladanan itu penting. Dan methode keteladanan ini terbukti paling berhasil dalam mempersiapkan dan membantu membentuk tingkah laku anak.[7] Oleh karena itu orang tua harus bisa menjadi figur yang baik bagi anak-anaknya dan melakukan sesuatu yang yang dikatakan. Firman Allah surat  ash Shof ayat 3

كَبُرَ مَقتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقولوا ما لا تَفعَلونَ

3. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan[8].

5. Memahami keadaan anaknya secara baik, dan menggunakan metode yang tepat. Disamping ibu harus menguasai materi yang akan diajarkan, juga harus memahami keadaan anaknya, dan memahami metode pendidikan. Sehingga kita mampu memilih metode dan teknik yang tepat sesuai dengan tingkat akal anak. Dan mampu mengelola psikis anak dengan baik. Hal ini perlu diperhatikan karena bisa jadi kita punya anak 4, dan ternyata karakter keempat-empatnya berbeda satu sama lain. Dan ingat tentu saja berbeda kurikulum untuk anak kita yang umur 10 tahun dengan anak yang umur 3 tahun. Karenanya harus sesuai dengan tingkat akal anak, sehingga bisa difahami. Sabda Rasulullah:

امرناان نكلم الناس  علىقد رعقولهم

“Kami diperintah supaya berbicara kepada manusia menurut kadar akal (kecerdasan) mereka masing-masing” (HR. Muslim)

6. Tidak menyimpang dari kurikulum yang ditetapkan.

Seringkali kalau kita menyebut kurikulum pendidikan, kita beranggapan bahwa itu untuk pendidikan formal saja, padahal pendidikan keluargapun membutuhkan kurikulum. Kurikulum Pendidikan adalah suatu rangkaian mata pelajaran berikut metode penyampaiannya yang menjadi patokan penyampaian ilmu pengetahuan (materi pelajaran). Karenanya jika kita menyimpang dari kurikulum yang telah ditetapkan, maka tidak akan mampu mencapai tujuan pendidikan. Dengan demikian dalam mendidik anak, ingat pada kurikulum pendidikan keluarga yang telah kita tetapkan: kapan harus dilakukan dan kapan harus mencapai targetnya. Ingat, kita tentu sudah menargetkan agar anak kita menjadi pejuang dan SDM Khilafah. Tentu kita harus memprosesnya sesuai dengan kurikulum yang telah kita persiapkan.

7. Ikhlash.

Ibu harus ikhlash dalam melaksanakan tugasnya  karena sesungguhnya Allah memerintahkan hambahnya untuk beribadah dengan ikhlash, termasuk mendidik anak[9]. Sebagimana firman Allah dalam surat al Bayinah ayat 5:

وَما أُمِروا إِلّا لِيَعبُدُوا اللَّهَ مُخلِصينَ لَهُ الدّينَ حُنَفاءَ

5. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus,[10].

Dan sungguh Allah membatasi ibadah yang diterima disisi-Nya hanya ibadah yang dilaksanakan hanya karena Allah.

8. Menyayangi anak dan penyabar.

Ibu mempunyai tugas untuk mendidik anak agar  memperoleh ilmu pengetahuan dan mengubah tingkah lakunya sesuai dengan tuntutan materi pelajarannya dan tentu saja harus sesuai dengan Islam. Anak adalah manusia bukan benda. Kalau benda diberi perlakuan sama, maka ia berubah secara serentak, tapi berbeda dengan manusia. Karenanya saat manusia diberi perlakuan tertentu tidak serta merta semuanya berubah, ada satu-dua yang ‘ngadat’. Keadaan seperti ini tidak akan bisa diatasi, jika ibu bukan seorang yang menyayangi anak dan sabar[11]. Firman Allah surat Ali Imran;n 134

وَالكٰظِمينَ الغَيظَ وَالعافينَ عَنِ النّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ المُحسِنينَ

, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan[12].

9. Do’a

Do’a merupakan hal yang penting yang harus dilakukan orangtua untuk anak-anak. Sebagaimana  Allah mengajarkan dalam firman-Nya: surat al Furqan; 74:

وَالكٰظِمينَ وَالَّذينَ يَقولونَ رَبَّنا هَب لَنا مِن أَزوٰجِنا وَذُرِّيّٰتِنا قُرَّةَ أَعيُنٍ وَاجعَلنا لِلمُتَّقينَ إِمامًا

74. dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada Kami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami), dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Daftar Pustaka:

Abdullah Nasih Ulwan, Tarbiyatul Aulat fil Islam (Terjemahan), Jakarta, Pustaka Amani, Cetaka kedua

Depag RI, Al-Quran dan Terjemah, Yakarta

Abdurrahman Amirah, Manhaj Al Qur’an fi Tarbiyati ar Rijal, Beirut, Darul Jail.

Taqiyuddin an Nabhani, Syakhsyiyah Islamiyah Juz I, Darul Ummah, Beirut, 2003.

Muhammad Nur ibn  Abdul Hafidl, Manhaj Tarbiyah li ath Thifl, Beirut, Daru Ibnu katsir, 1999, cetakan kedua.


[1] Abdullah Nasih Ulwan, Tarbiyatul Aulat fil Islam (Terjemahan), Jakarta, Pustaka Amani, Cetaka kedua, hlm. 339

[2] Depag RI, Al-Quran dan Terjemah, surat Ali Imran, 102, Jakarta

[3] Abdurrahman Amirah, Manhaj Al Qur’an fi Tarbiyati ar Rijal, Beirut, Darul Jail, hlm. 237

[4] Depag RI, Al-Quran dan Terjemah, surat al Mujadalah, ayat 11, Jakarta

[5] Ibid, surat adz Dzariat, ayat 56

[6] Taqiyuddin an Nabhani, Syakhsyiyah Islamiyah Juz I, Darul Ummah, Beirut, 2003, hlm. 20

[7] Abdullah Nasih Ulwan, Tarbiyatul Aulat fil Islam (Terjemahan), Jakarta, Pustaka Amani, Cetaka kedua, hlm. 142

[8] Depag RI, Al-Quran dan Terjemah, surat ash shaf, ayat 2-3, Jakarta

[9] Abdullah Nasih Ulwan, Tarbiyatul Aulat fil Islam (Terjemahan), Jakarta, Pustaka Amani, Cetaka kedua, hlm. 337-338

[10] Al Qur’an dan Terjemah, Departemen Agama RI surat al Bayyinah ayat 5

[11] Muhammad Nur ibn  Abdul Hafidl, Manhaj Tarbiyah li ath Thifl, Beirut, Daru Ibnu katsir, 1999, cetakan kedua, hlm. 45

[12] Depag RI, Al-Quran dan Terjemah, surat Ali Imran ayat 134, Jakarta

Video Mesum, Episode Berulang Karya Liberalisme

Oleh Kholda Naajiyah

Apa yang dikhawatirkan masyarakat akan makin merebaknya pornografi dan pornoaksi benar-benar terjadi. Masih ingat dengan aksi sejuta umat di ibukota Jakarta dan berbagai kota besar di seluruh Indonesia, 21 Mei 2006 lalu? Mereka menuntut pemberlakuan Undang-undang Antipornografi dan pornoaksi yang waktu itu masih RUU (sekarang disahkan jadi UU Pornografi). Tuntutan itu dilatarbelakangi kekhawatiran akan merebaknya pornografi dan pornoaksi yang makin mengkhawatirkan. Bagaimana tidak, Indonesia berada di peringkat kedua setelah Rusia dalam hal kemudahan akses konten porno. Apalagi, setelah majalah porno Playboy yang ditentang penerbitannya oleh masyarakat, ternyata tetap eksis.

Sayang, pemerintah merespons biasa-biasa saja tuntutan rakyat tersebut. Meski UU Pornografi kemudian disahkan, isinya jauh dari harapan. Buktinya, tak mampu menjerat pelaku pornografi dan pornoaksi. Walhasil, tidak kaget jika kini beredar luas vide mesum yang (diduga) dilakoni artis-artis top papan atas. Jagad gempar. Masyarakat resah, pemerintah gerah.

Semua orang mendiskusikannya, menelaah dan menganalisa. Mulai psikolog, politisi, pakar teknologi informasi, hingga kiai. Bahkan isunya mendunia karena menjadi topik perbincangan nomor satu di jejaring sosial seperti twitter. Sungguh menghabiskan energi bangsa, seolah tidak ada problem lain yang lebih krusial.

Padahal, seiring waktu, isu ini toh hanya akan jadi penghias media massa sesaat. Pada kasus seperti ini, pelaku biasanya tak tersentuh sanksi. Maria Eva yang 2006 mengakui membuat video mesum dengan Yahya Zaini (waktu itu anggota DPR), malah mendapat ‘berkah’ berupa ketenaran. Malu? Itu hanya sebentar. Toh masyarakat kita mudah lupa.

Pasca video mesumnya beredar, Maria Eva tetap dielu-elukan. Bahkan laris sebagai pembicara di televisi. Sekarangpun, dijadikan nara sumber untuk menjabarkan kiat-kiat menghadapi kasus semacam itu agar tidak stres.

Ketika bulan puasa ia menebar bantuan, warga menyalami, mencium tangannya, cipika-cipiki dan mengajaknya foto bersama. Ia disambut bak dewa penolong. Sekarang, ia malah digadang-gadang jadi wakil bupati Sidoarjo.

Apakah nasib aktor video mesum mirip Ariel, Luna Maya dan Cut Tari akan sama seperti Maria Eva? Malu sesaat, lalu masyarakat akan melupakan dosa mereka? Waktu yang akan menjawab. Yang jelas, opini publik sudah terbentuk: mereka pezina. Publik pun sudah menyimpulkan: artis=seks bebas.  Yang dikhawatirkan, karena pelakunya “artis”, akan ditiru oleh para penggemar atau generasi muda secara umum. Apalagi rekaman porno itu begitu mudah diperoleh, dari internet maupun handphone.

BUAH SEKULERISME
Perzinaan yang merebak saat ini, baik di kalangan artis maupun masyarakat umum adalah buah ideologi sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Ketika agama (Islam) disingkirkan hanya di ruang privat, hanya mengatur hubungan ritual hamba dengan Tuhan-nya, maka aturan Tuhan tentang muamalah manusia disingkirkan. Manusia lebih suka membuat aturan sendiri dalam urusan muamalah mereka. Itulah esensi sekulerisme.

Dan, salah satu aturan sekuler yang paling menonjol adalah ide liberalisme (kebebasan). Menurut paradigma ini, manusia memiliki hak asasi yang harus dilindungi dan dijamin penuh. Termasuk hak berekspresi dan hak seksual. Dari sinilah muncul gaya hidup seks bebas, dengan anggapan bahwa masalah seks adalah hak asasi masing-masing individu yang tidak boleh dilarang, diatur apalagi dikriminalisasi. Asal suka sama suka, tidak boleh dipidana. Paradigma ini menuhankan hawa nafsu.

Maka jangan heran, penggiat liberalisme biasanya akan membela habis-habisan pelaku seks bebas, dengan dalih hak asasi tadi. Bahkan, mereka menganggap aktor pezina itu sebagai korban, yang wajib dilindungi dan bukan dikriminalisasi. Lihat saja komentar sebagian masyarakat sekuler tentang peredaran video mesum dengan pemain mirip Ariel, Luna Maya dan Cut Tari. Mereka hanya menyalahkan pengedarnya, dan malah membela aktor pelaku perzinaan dengan dalih itu hak privat yang bersangkutan.

Pola pikir ini juga menjangkiti aparat. Dalam banyak kasus, ketika video mesum beredar, pertama-tama yang dikejar selalu pengedarnya, bukan pelakunya. Ini selaras dengan regulasi yang ada, yang memang mandul berhadapan dengan pelaku pornografi dan pornoaksi.

Padahal, dampak merebaknya seks bebas, pornografi dan pornoaksi sudah begitu meresahkan. Moral masyarakat runtuh dan mengancam generasi muda. Perselingkuhan, pelecehan seksual, kehamilan di luar nikah, aborsi dan perkosaan menggila. Na’udzubillahi min zalik.

TERAPKAN ISLAM
Masyarakat  sekuler adalah masyarakat ’sakit’ yang mendewakan seks. Seks diusung ke ranah publik hingga menimbulkan dampak-dampak sosial yang merusak.  Maka, kita tidak bisa berharap masyarakat bersih dari pornografi, pornoaksi dan seks bebas, selama sekulerisme dan liberalisme masih menjadi ideologi yang diadopsi masyarakat.

Sebagai bangsa yang mayoritas rakyatnya muslim, adalah wajar belaka jika masyarakat menghendaki penerapan Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Sebab, Islam mengatur urusan ritual dengan Tuhan, maupun urusan muamalah dengan sesama manusia. Termasuk mengatur masalah pemenuhan kebutuhan seks.

Masyarakat Islam adalah masyarakat yang bersih dan sehat, karena mengunci masalah ranjang hanya di ranah privat. Itupun dengan persyaratan ketat, yakni hanya melalui lembaga sah berupa pernikahan. Karena itu, aturan Islam melarang peredaran segala sesuatu yang membangkitkan syahwat (yakni, pornografi dan pornoaksi). Pelakunya akan dikenai sanksi berat. Seperti pelaku zina, akan dirajam. Dengan cara itu masyarakat tercegah untuk melakukan aksi pornografi dan pornoaksi. Seks bebas pun dengan sendirinya akan lenyap.

Masyarakat bebas pornografi dan pornoaksi (di ruang publik) seperti ini, mengalami kemajuan luar biasa, sebagaimana ditorehkan dalam sejarah Khilafah Islamiyah selama 13 abad lamanya. Ilmu pengetahuan dan teknologi maju pesat, keimanan dan ketakwaan masyarakat tinggi, korupsi ditekan, gejala sosial seperti perceraian minim, keadilan dan kesejahteraan terwujud.(*)

Kholda Naajiyah S.Si,
Jurnalis, Aktivis Hizbut Tahrir Indonesia.